JAKARTA: Ekstrak tomat (solanmu lycopersicum) ternyata mempunyai daya bunuh terhadap jentik (larva) aedes aegepty (nyamuk demam berdarah). Ini merupakan hasil penelitian Novita Yulianti dan Imam Fauzi, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang terpilih sebagai juara II dalam Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2007.
Memang tidak ada orang yang mengira, tomat, sayuran buah yang banyak ditanam di seluruh penjuru Indonesia memiliki potensi untuk membasmi jentik nyamuk DBD. Novia Yulianti mengaku tercetus ide untuk meneliti tomat karena sayur buah ini banyak ditemui di tempat tinggalnya di Semarang.

"Saya meneliti uji daya bunuh ekstrak tomat terhadap larva aedes aegepty karena saya menilai penyakit demam berdarah merupakan momok di Indonesia.Saya kuliah di fakultas kesehatan masyarakat dan ingin mempraktekkan ilmu saya dengan melakukan penelitian karena penyakit demam berdarah setiap tahunnya selalu merebak,” katanya.
Novita mengaku mendapatkan pengetahuan tentang kandungan tomat dari internet dan literatur. Tomat mengandung alkoloida, yaitu senyawa yang bisa bersifat racun dan menggagalkan proses metamorfosis, serta saponin, yaitu senyawa aktif yang bersifat seperti sabun. “Zat semacam itu yang mampu menjadi daya bunuh bagi jentik nyamuk DBD,” ujarnya.
Tahap penelitian dimulai dengan mengolah tomat menjadi ekstrak, kemudian mencampurkan dengan etanol. 'Tomat dipotong-potong, dikeringkan kemudian diekstrak,” ujarnya. Selanjutnya, dilakukan pemisahan zat, dengan pelarut dari zat etanol. “Setelah menjadi ekstra, baru diambil konsentrasi yang tepat. Saya melakukan eksperimen bekerja sama di Balai Penelitian Vektor Penyakit Salatiga," katanya.
Konsentrasi ekstrak tomat yang disiapkan mulai 0,1%hinga 8%. Pada masing-masing konsentrasi terdapat 15 jentik nyamuk DBD untuk uji pendahuluan. “Dalam waktu 24 jam larva mati. Larva didapatkan dari sampel dan populasi yang dibiakkan di laboratorium BPVRP Salatiga. Di situ saya kan menggunakan pengulangannya sebanyak 4 kali dan 6 kali perlakuan,” paparnya.
Sedangkan untuk uji lanjutan, Novita menggunakan konsentrasi ekstrak 0,2 hingga 3%. Dalam uji lanjutan ini pun, ditemukan ekstrak tomat memang secara efektif mampu membunuh larva DBD. Secara sederhana selama 24 jam, diakukan uji dengan 4 kali pengulangan dengan 6 jenis konsentrasi.
Konsentrasi ekstrak tomat yang disiapkan mulai 0,1%hinga 8%. Pada masing-masing konsentrasi terdapat 15 jentik nyamuk DBD untuk uji pendahuluan. “Dalam waktu 24 jam larva mati. Larva didapatkan dari sampel dan populasi yang dibiakkan di laboratorium BPVRP Salatiga. Di situ saya kan menggunakan pengulangannya sebanyak 4 kali dan 6 kali perlakuan,” paparnya.
Sedangkan untuk uji lanjutan, Novita menggunakan konsentrasi ekstrak 0,2 hingga 3%. Dalam uji lanjutan ini pun, ditemukan ekstrak tomat memang secara efektif mampu membunuh larva DBD. Secara sederhana selama 24 jam, diakukan uji dengan 4 kali pengulangan dengan 6 jenis konsentrasi.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa ekstrak dengan konsentrasi 0,2% mampu membunuh 8% larva aides aegepty. Kemudian ekstrak 0,4% dapat menyebabkan 20% kematian larva, konsentrasi 0,6% dapat menyebabkan 40% kematian, konsentrasi 1% mengakibatkan 80% kematian, dan terakhir konsentrasi 3% bisa mengakibatkan 99% larva mati.
“Ini merupakan uji baru yang dilakukan di Indonesia, dan sebelumnya belum pernah diadakan. Selama ini yang saya ketahui, di luar negeripun belum ada yang melakukan penelitian tomat bisa membunuh larva,” ujarnya

0 komentar:
Posting Komentar